Sebuah
jalan yang sepi , sore hari ini , seorang gadis kecil berjalan riang sendirian
. Ia memakai kerudung dan tas hitam dan sedang dalam perjalanan ke tempatnya
mengaji . Sampai di ujung sebuah jalan ,
ia bertemu dengan beberapa pemuda mabuk yang mengejeknya , ada yang memulai dengan kata – kata kasar ,
juga dengan menertawainya . Mulanya ia tidak memperhatikan , tapi lama kelamaan
semua perbuatan itu membuatnya sangat marah , anak itu kemudian berlari menjauh
secepatnya dari tempat itu dan pergi menuju ke tempatnya mengaji .
Ia
tiba disana dengan tubuh kelelahan dan hati yang sakit .Segera ia meletakkan
sandal , mengambil wudlu , dan langsung duduk tanpa mengucap salam karena
memendam amarah begitu besarnya . Disana ia sudah ditunggu oleh ustadnya yang hanya memperhatikannya dengan tersenyum
kecil .
Ia kemudian
menceritakan peristiwa yang dialaminya ,tentang mengapa ia menjadi begitu marah
karenanya . Mendengar cerita itu , sang ustad lalu mendekatinya kemudian
menepuk pundaknya perlahan kemudian menasihatinya .
“Nak ,
islam itu selapang angkasa . Jika seseorang maludah ke langit , apakah itu akan
mengotori langit ,? Nahkan ludah itu akan mengotori wajahnya sendiri . Nukan
agama yang terluka melainkan ego dari dirimu “
“Kamu terperdaya melihat orang lain berbuat dosa dan api kemarahan berkobar dalam dirimu . Kamu menyebut kemarahan itu sebagai pembelaan pada agama . Padahal kamu tidak menyadari bahwa jiwamu yang sombong . “
“Kamu terperdaya melihat orang lain berbuat dosa dan api kemarahan berkobar dalam dirimu . Kamu menyebut kemarahan itu sebagai pembelaan pada agama . Padahal kamu tidak menyadari bahwa jiwamu yang sombong . “
Ditafsirkan ulang dari Wajah
Sejuk Agama , Jamal Rahman